Beranda BERITA BOLA Popularitas Bintang Piala Dunia 1990

Popularitas Bintang Piala Dunia 1990

407
0
BERBAGI
Salvatore Schillaci Popularitas Bintang Piala Dunia 1990

Salvatore Schillaci tidak akan melupakan Piala Dunia 1990 begitu saja. Wajar saja, karna pada ajang itulah jati dirinya sebagai pesepakbola melambung tinggi  dan dikenal pecinta bola sejagat raya.

Bermain di rumah sendiri, Italia memberitahukan publik jika tim kebanggaan mereka mampu berbicara dan bisa mendapatkan juara pada ajang Piala Dunia untuk yang keempat kalinya. Pemain yang digiring pelatih, Azeglio Vicini memiliki kualitas yang tinggi dan performanya sendiri dalam bermain. Hanya saja nama Salvatore Schillaci belum termasuk di dalamnya.

Tetapi, ia justru tampil maksimal sebagai juru gedor Gli Azzurri. Tak tanggung-tanggung, ia mampu mengemas 6 gol dan menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang turnamen di Piala Dunia 1990. Yang paling membanggakannya lagi, Schillaci juga terpilih sebagai Pemain Terbaik.

Tetapi sayangnya, Pemain emas ini tak mampu membuat Italia membawa trofi Piala Dunia. Schillaci dkk jatuh di tangan Argentina yang saat itu memiliki Diego Maradona pada babak semifinal. Mereka mendapat gelar ‘hiburan’, yaitu juara ketiga setelah menekuk Inggris.

Kegagalan tersebut membuat dirinya marah. Berdasarkan pengakuannya kepada FourFourTwo, ia menghabiskan waktu yang harusnya untuk beristirahat tetapi dipakai untuk menghisap rokok dan menangis sepanjang hari. Bahkan ia rela seandainya gelar Pemain Terbaik yang diperolehnya ditukar trofi Piala Dunia.

Sebelum mengejutkan banyak pihak lewat aksi-aksinya bersama timnas Italia, nama Salvatore Schillaci nyaris tak terdengar. Karier pemain berpostur 173 cm ini lebih banyak berkutat di kasta bawah, yaitu Serie C2, C1 dan B, bersama Messina selama tujuh musim.

Pelan tapi pasti, nasibnya berubah. Kemampuannya yang baik dalam mencetak gol dari kaki maupun kepalanya menarik perhatian dari sejumlah klub raksasa Serie A. Juventus lalu menjadi pilihan Schillaci buat melanjutkan karier jelang musim kompetisi 1989/1990.

Di musim perdananya bersama La Vecchia Signora, ia terbilang sukses. Sebagai top skor klub sekaligus mempersembahkan trofi Piala Italia dan Piala UEFA. Itulah yang membuat Vicini membawanya ke Piala Dunia 1990.

Performa apik selama dua musim terakhir tak mampu dipertahankan olehnya. Ia menghadapi rentetan masalah kebugaran dan dilego ke salah satu tim rival, Inter Milan pada musim 1992/1993.

Upaya ‘Toto’ Schillaci memperbaiki diri bersama Inter urung membuahkan hasil. Tercatat, hanya 13 gol mampu ia buat di seluruh kompetisi selama dua musim. Hal itu berujung pada keputusan manajemen Inter yang tak memperpanjang kontraknya di tahun 1994.

Di ambang kehancuran karier, ia bergabung dengan Jubilo Iwata di usia 30 tahun dan menjadi pemain Italia pertama yang bermain di kompetisi J-League. Empat musim di sana, ia membukukan 65 gol serta berperan atas gelar J-League pertama Jubilo.

Lagi-lagi, nasib sial menghampirinya. Paska mengantar Jubilo sebagai tim nomor satu di Jepang, kontraknya tidak diperpanjang oleh manajemen klub. Dirinya pulang kampung ke Italia sebelum akhirnya benar-benar pensiun dari lapangan hijau di tahun 1999. Kini, ia mendirikan akademi sepakbola di kota kelahirannya, Palermo.

Memang Salvatore Schillaci tidak melegenda seperti Paolo Rossi atau Giuseppe Meazza. Namun, waktu singkat di musim panas 1990 bakal selalu dikenang publik. Dimana ia muncul sebagai bintang utama Italia di turnamen sepakbola paling bergengsi sejagat raya, hal yang mustahil terulang di Piala Dunia 2018 mengingat Italia hanya menjadi penonton.

Di musim perdananya bersama La Vecchia Signora, ia terbilang sukses. Sebagai top skor klub sekaligus mempersembahkan trofi Piala Italia dan Piala UEFA. Itulah yang membuat Vicini membawanya ke Piala Dunia 1990.

Performa apik selama dua musim terakhir tak mampu dipertahankan olehnya. Ia menghadapi rentetan masalah kebugaran dan dilego ke salah satu tim rival, Inter Milan pada musim 1992/1993.

Upaya ‘Toto’ Schillaci memperbaiki diri bersama Inter urung membuahkan hasil. Tercatat, hanya 13 gol mampu ia buat di seluruh kompetisi selama dua musim. Hal itu berujung pada keputusan manajemen Inter yang tak memperpanjang kontraknya di tahun 1994.

Di ambang kehancuran karier, ia bergabung dengan Jubilo Iwata di usia 30 tahun dan menjadi pemain Italia pertama yang bermain di kompetisi J-League. Empat musim di sana, ia membukukan 65 gol serta berperan atas gelar J-League pertama Jubilo.

Lagi-lagi, nasib sial menghampirinya. Paska mengantar Jubilo sebagai tim nomor satu di Jepang, kontraknya tidak diperpanjang oleh manajemen klub. Dirinya pulang kampung ke Italia sebelum akhirnya benar-benar pensiun dari lapangan hijau di tahun 1999. Kini, ia mendirikan akademi sepakbola di kota kelahirannya, Palermo.

Memang Salvatore Schillaci tidak melegenda seperti Paolo Rossi atau Giuseppe Meazza. Namun, waktu singkat di musim panas 1990 bakal selalu dikenang publik. Dimana ia muncul sebagai bintang utama Italia di turnamen sepakbola paling bergengsi sejagat raya, hal yang mustahil terulang di Piala Dunia 2018 mengingat Italia hanya menjadi penonton.

Daftar Akun Bola Bonus Free Saldo Rp 68,000

agen bola piala dunia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.